(Arrahmah.com) - Seperti apa latar belakang singkat dari peristiwa Asyuro di Karbala? Siapa sosok Muslim bin Aqil? Siapa saja yang menasehati Husein agar tak pergi ke Kufah? Apa isi nasehtnya? Mengapa Husain Radhiyallohu anhu menyebut Karbala, karbun wa bala (bencana dan musibah)? Siapa yang telah berkhianat kepada Husian? Siapa sesungguhnya pembunuh cucu nabi Muhammad Shallalahu alaihi wa sallam itu?
Masih di bulan Muharam dan untuk menjawab beberapa pertanyaan di atas, redaksi arrahmah.com menampilkan cuplikan tulisan Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina www.KonsultasiSyariah.com), yang terpampang di situs tersebut tulisan utuhnya berjudul Asuro dan Karbala, 15 November 2013. Bermanfaat insya Allah Ta’ala.
Setelah Yazid dibaiat sebagai Amirul Mukminin di Syam (wilayah sekitar Damaskus, Suriah, Lebanon, dan Palestina), Husain Radhiyallohu anhu diajak oleh kelompok Yazid untuk turut membaiat Yazid. Namun Husain menolak, dan beliau segera meninggalkan Madinah menuju Mekah. Ketika Penduduk Kufah (Irak) yang mendengar sikap Husain terhadap Yazid, mereka langsung mengirim berbagai surat kepada Husain. ada lebih dari 500 surat yang diterima Husain. Inti dari isi surat itu ada 3 hal,
  1. Penduduk Kufah tidak membaiat Yazid
  2. Penduduk Kufah hanya mau taat jika Husain dan keluarga Ali sebagai khalifah
  3. Mengundang Husain untuk datang ke Kufah agar bisa dibaiat
Untuk menyelidiki kebenaran berita dan isi surat ini, Husain mengirim Muslim bin Aqil (sepupu Husain) agar memeriksa keadaan di Kufah yang sebenarnya. Sesampainya Muslim bin Aqil tiba di Kufah, dia singgah di rumah Hani bin Urwah. Di rumah ini, banyak penduduk Kufah yang membaiat Husain melalui perwakilan Muslim bin Aqil. Merasa bahwa penduduk Kufah telah loyal terhadap Husain, Muslim mengirim surat kepada Husain, agar segera datang ke Kufah, karena semua telah disiapkan.
Berita tentang penduduk Kufah didengar oleh Yazid. Ketika itu, Kufah termasuk daerah kekuasaan bani Umaiyah dengan gubernur: Nu’ban bin Basyir radhiyallahu ‘anhuma, salah satu sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Namun karena Nu’man tidak perhatian dengan kejadian baiat Husain di Kufah, beliau dinon-aktifkan dan wiliyah Kufah diserahkan kepada Ubaidillah bin Ziyad, yang ketika itu menjadi gubernur Bashrah. Sehingga Ubaidillah memegang kekuasaan dua wilayah, Bashrah dan Kufah.
Ubaidillah menemui Hani’ bin Urwah dan menanyakannya tentang gejolak di Kufah. Ubaidillah ingin mendengar sendiri penjelasan langsung dari Hani’ bin Urwah. Namun Hani’ tidak mau mengaku, hingga dia dipenjara. Mendengar kabar bahwa Ubaidullah memenjarakan Hani’ bin Urwah, Muslim bin Aqil datang bersama 4000 orang syiah (pembela) Husain yang membaiatnya dan mengepung istana Ubaidullah bin Ziyad. Ini terjadi siang hari.
Ubaidillah bin Ziyad merespon pengepungan Muslim bin Aqil dengan mengancam akan mendatangkan sejumlah pasukan dari Syam. Ternyata gertakan Ubaidullah membuat takut Syiah (pembela) Husein ini. Mereka pun berkhianat dan berlari meninggalkan Muslim bin Aqil hingga tersisa 30 orang saja yang bersama Muslim bin Aqil, dan belumlah matahari terbenam, hingga hanya tersisa Muslim bin Aqil seorang diri.
Manusia, kaum Muslimin khususnya bisa menilai, bagaimana karakter penduduk Kufah yang menjadi syiah (pembela) Husain dan Ali bin Abi Thalib.
Muslim pun ditangkap dan Ubaidillah memerintahkan agar dia dibunuh. Sebelum dieksekusi, Muslim meminta izin untuk mengirim surat kepada Husein, keinginan terakhirnya dikabulkan oleh Ubaidillah bin Ziyad.
Isi surat Muslim kepada Husein adalah “Pergilah, pulanglah kepada keluargamu! Jangan engkau tertipu oleh penduduk Kufah. Sesungguhnya penduduk Kufah telah berkhianat kepadamu dan juga kepadaku. Orang-orang pendusta itu tidak memiliki akal“. Muslim bin Aqil kemudian dibunuh, tepatnya tanggal 9 Dzulhijjah, hari Arafah.
Husain berangkat dari Mekah menuju Kufah di tanggal 8 Dzulhijah, hari tarwiyah. Banyak para sahabat Nabi menasihatinya agar tidak pergi ke Kufah. Berikut beberepa nasehat mereka kepada Husain,
Abu Said al-Khudri radhiallahu ‘anhu menemui Husain,
Sesungguhnya aku adalah seorang penasihat untukmu, dan aku sangat menyayangimu. Telah sampai berita bahwa orang-orang yang mengaku sebagai Syiahmu (pembelamu) di Kufah menulis surat kepadamu. Mereka mengajakmu untuk bergabung bersama mereka. Mohon jangan engkau pergi bergabung bersama mereka karena aku mendengar ayahmu –Ali bin Abi Thalib- mengatakan tentang penduduk Kufah, ‘Demi Allah, aku bosan dan benci kepada mereka, demikian juga mereka bosan dan benci kepadaku. Mereka tidak memiliki sikap memenuhi janji sedikit pun.”
Ibnu Umar radhiallahu ‘anhu menemui Husain,
Aku hendak menyampaikan kepadamu beberapa kalimat. Sesungguhnya Jibril datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kemudian memberikan dua pilihan kepada beliau antara dunia dan akhirat, maka beliau memilih akhirat dan tidak mengiginkan dunia. Engkau adalah darah dagingnya, demi Allah tidaklah Allah memberikan atau menghindarkan kalian (ahlul bait) dari suatu hal, kecuali hal itu adalah yang terbaik untuk kalian“.
Husein tetap enggan membatalkan keberangkatannya. Ibnu Umar pun menangis, lalu mengatakan, “Aku titipkan engkau kepada Allah agar tidak dibunuh“.
Singkat cerita Husein menginjakkan kakinya di daerah Karbala bersama 73 orang yang mendampinginya. Kemudian tibalah 4000 pasukan yang dikirim oleh Ubaidullah bin Ziyad di bawah pimpinan Umar bin Saad. Husein bertanya, “Apa nama tempat ini?” Orang-orang menjawab, “Ini adalah daerah Karbala.” Kemudian Husein menanggapi, “Karbala: Karbun wa Balaa’.” Karbun artinya bencana dan Balaa’ artinya musibah.
Wahai manusia, Anda bisa simak, bagaimana Husain sama sekali tidak memberikan pujian terhadap Karbala’. Justru beliau memberikan nilai buruk, dari nama Karbala. Berbeda dengan orang syiah. Mereka memuji habis Karbala’ dan menyebutnya sebagai tanah suci.
Melihat pasukan dalam jumlah yang sangat besar, Husein radhiallahu ‘anhu menyadari tidak ada peluang baginya. Lalu dia menawarkan 3 hal, “Aku ada 3 pilihan, (1) kalian mengawal (menjamin keamananku) pulang atau (2) kalian biarkan aku pergi menghadap Yazid di Syam untuk membaiatnya, atau (3) Aku pergi ke daerah perbatasan dan ikut bergabung bersama kaum muslimin dalam jihad melawan daerah kafir.
Ubaidillah bin Ziyad menyetujui tawaran Husain. Namun tiba-tiba sosok jahat Syamr bin Dzil Jausyan memprotes. “Jangan. jangan kabulkan tawarannya, sampai dia menjadi tawananmu, wahai Ubaid.” Syamr masih termasuk  kerabat dekat Ubaidillah.
Mendengar usulan ini, Ubaidillah merasa ada unsur bangga. Diapun menyetujuinya. Namun Husein menolak untuk menjadi tawanan Ubaidillah.
Mulailah terjadi ketegangan antara pasukan Husain yang berjumlah 73 orang dengan pasukan Irak 4000 orang. Husain pun berceramah mengingatkan status dirinya dan kedekatannya di sisi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Hingga sekitar 30 orang pasukan Irak dipimpin oleh al-Hurru bin Yazid at-Tamimi membelot dan bergabung dengan Husain.
Namun apa daya 100 lawan 4000. Peperangan yang tidak imbang itu menewaskan semua orang yang mendukung Husain, hingga tersisa Husain seorang diri. Orang-orang Kufah merasa takut dan segan untuk membunuhnya. Masih tersisa sedikit rasa hormat mereka kepada darah keluarga Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Tiba-tiba datang Syamr bin Dzil Jausyan –semoga Allah menghinakannya – meneriakkan, “Apa yang kalian lakukan, segera serang dia.” Syamr pun melemparkan panah lalu mengenai Husein dan ditambah tombak Sinan bin Anas yang mengenai dada Husain. Beliaupun terjatuh lalu orang-orang mengeroyoknya, Husain akhirnya mati syahid. Inna lillahi wa inna ilaihi roji’un.
Ini terjadi di hari Jumat, 10 Muharam, hari Asyura. Wallohu A’lam.
Kisah ini diceritakan dari berbegai sumber oleh Dr. Utsman al-Khamis dalam bukunya: Huqbah min at-Tarikh hlm. 140 – 147.(azm/arrahmah.com)